#CeritaSetelahMenikahGusLeha
#CeritaSetelahMenikahGusLeha

Hari ini, ingatan saya tiba-tiba teringat ke sebuah perjalanan seru dan lucu bersama Istiri dan bapak mertua. Itu adalah kali pertama saya dan istri berjalan cukup panjang. Bagaimana tidak saya sebut perjalanan panjang, kami harus melangkahkan kaki dengan panjang-panjang untuk mencapai tujuan, kami harus berjalan kaki lebih kurang 4 kilo meter. Ya, empat kilo meter tanpa kendaraan dan melewati hutan.

Waktu itu, perjalanan kami adalah untuk mengunjungi makam almarhum nenek sang Istri. Sekaligus, melihat asset bapak mertua (kebun kelapa miliknya). Ia rindu melihat kebunnya yang menurut cerita istri saya sudah lama tak ia kunjungi.

Kami berangkat berpagi-pagi sekali, ketika cuaca sedang cerah-cerahnya, seperti kami yang juga sedang semangat-semangatnya. Padahal, saat itu sedang maraknya virus Korona. Ah, kami tak mematuhi anjuran pemerintah untuk tetap dirumah saja, tapi tak apalah, bukan bermaksud membangkang himbauan pemerintah, tapi karena ini memang kebutuhan dan memang perjalanan ini harus kami lakukan. Masker kami gunakan.

#CeritaSetelahMenikahGusLeha
#CeritaSetelahMenikahGusLeha

Perjalan seru dan lucu yang saya maksud itu kami awali dengan menempuh jalur laut, menggunakan spead boat yang memakan waktu lebih kurang lima belas menit. Ombak cukup tenang pagi itu, sangat bersahabat, hanya saja ada sedikit goyangan sebagai pemanis perjalanan. Hingga akhirnya, kami sampai dengan selamat. Dan, setelah sampai di dermaga Suak Bakek itulah perjalanan kami baru saja dimulai.

Untuk menuju makam nenek Istri saya, kami harus berjalan kaki. Ya, berjalan kaki karena memang di sana tidak ada transportasi darat, mau ojek bukannya becek, tapi memang karena tak ada ojek. Jangankan ojek, yang punya kendaraan sendiri pun mungkin bisa di hitung di sana. Maklumlah, di sana orang memang terbiasa berjalan kaki dan terlatih.

Lucunya, untuk menuju ke lokasi pemakaman almarhum nenek istri saya, kami sempat salah jalan. Naasnya, salah jalannya bukannya dekat tapi jauh, kalau diukur mungkin salah jalan yang kami lakukan bisa menjadi modal tambahan tenaga untuk menuju kebun bapak mertua yang katanya untuk ke sana memakan jarak lebih kurang 2 KM.

Kami terpaksa putar jalan dan menambah jalan untuk sampai ke pemakaman. Sejurus kemudian, setelah cukup lelah berjalan dan keringat bercucuran, kami sampai di pemakaman. Pemakamannya tersembunyi, penuh semak belukar. Di sana, kami membersihkan makam tersebut dan kemudian membaca Yasin dan membacakan doa arwah.

Lebih kurang dua puluh menit kami di sana, kami kembali meanjutkan perjalanan menuju kebun bapak mertua. Tenaga tekuras, badan lemas, di tambah dengan bekal yang saya tenteng saat itu cukup berat (3 bungkus nasi dan 1 botol air mineral ukuran besar 1.5 lt.

Lucunya perjalanan ini adalah pada sebuah obrolan singkat saya dan istri. Obrolan itu lahir di saat saya kepenatan menenteng bekal dan meminta bantuan sang istri untuk gantian membawa tentengan tersebut.

“Sayang, gantian bawa ini” Kataku sambil menyodorkan tentengan dan memelas padanya dengan butirbutri keringat yang jatuh dari dahi ke pipi.

“Sayang…..” katanya dengan raut wajah penat. “tak sayang istri ya?” tanyanya

Kutatap wajahnya dan berkata padanya, “Bukan tak sayang, cintaaaaa.” kataku memujuknya, “tapi tolong gantian. Sebentar saja, ya?”

Dia tak berkata-kata, hanyak menjawab dengan tindakan, mengambil tentengan yang kusodorkan.

“Ikhlaskan?” tanyaku.

Dia hanya tersenyum kemudian mengajakku melangkah lagi mengejar mertuaku yang sudah cukup jauh meninggalkan langkah kaki kami.

#CeritaSetelahMenikahGusLeha
#CeritaSetelahMenikahGusLeha

****

Ya, begitulah. Sejak awal saat berencana untuk menikah dan ketika sah menjadi sepasang suami istri, kami berkomitmen untuk saling membantu satu sama lain. Dalam hal apapun, syaratnya hanya satu, asalakan dalam hal kebaikan.

Hari ini, sudah lebih tiga bulan kami menikah. Ada banyak pelajaran yang saya dan istri dapatkan. Ternyata, menikah bukan hanya sekadar menikmati romantisme semata; jalan berdua, bergurau ria, membaca dan menulis bersama, menjemput rezeki bersama, menyusun masa depan, makan bersama, menatap senja dan saling tag dan mention di duia maya. Ya, meskipun itu sah-sah saja dan baik adanya untuk menjadi lebih akrab.

Tapi, rumah tangga selalu membutuhkan perjuangan extra dan pengorbanan yang besar. Berpeluh dan tidak mengeluh, tanggung jawab atas tugas masing-masing dan terpeting adalah bagaimana kita saling membantu satu sama lain, saling mendukung cita-cita pasangan juga tak kalah penting adalah bagaimana agar keluarga yang dibangun diridhoi Allah.

Nah, tentang mewujudkan mimpi pasangan masing-masing. Bagi kami, wajib hukumnya untuk membantu. Kami ingin sebuah ikatan yang mulia (pernikahan) bisa menjadi memudahkan langkah masing-masing mewujudkan mimpi. Bantu mendoakan dan menyemangati, bantu untuk mengingatkan agar tetap sabar dan pantang menyerah bila mimpi yang ingin diraih belum terwujudkan, bantu sebisanya dengan segenap kemampuan yang dipunya.

Tentang mewujudkan mimpi. Saya jadi teringat saat menemani istri ikut tes CPNS di Tembilahan bulan Februari lalu. Ya, walaupun akhirnya peluang lulus tidak berpihak kepadanya. Tapi paling tidak ia sudah berjuang dan berdoa dan saya sudah berdoa dan menemaninya untuk mewujudkan mimpi. Itu lebih dari cukup bagi kami.

Berhasil mewujudkan mimpi bagi kami adalah bonus, proses untuk membantu mewujudkan mimpi masing-masing adalah kebahagiaan.

#CeritaSetelahMenikahGusLeha
#CeritaSetelahMenikahGusLeha

Tanggal 6 April lalu saya sudah melewati tiga bulan pernikahan. Banyak kebahagiaan yang kami rasakan dan ada banyak pelajaran yang kami dapatkan. Kami akan siap menerima lebih banyak kebahagiaan dan meresapi banyak hikmah pelajaran.

Saya dan istri hari ini dan nanti akan salalu sama-sama berjalan, seiring seirama dalam hal apapun. Berlari untuk mewujudkan mimpi masing-masing dan mimpi bersama, bukan saling membunuh mimpi masing-masing dan menghambat mimpi bersama.

Kawan, ini cerita yang bisa saya bagikan setelah tiga bulan menikah. Masih banyak lagi. Nanti akan saya ceritakan lagi. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Oh iya, untuk menutup tulisan ini. Saya menutupnya dengan sebuah puisi. Puisi yang ditulis ustad Salim a Fillah namun saya gubah sesuai dengan keadaan saya.

Wahai Istriku, Juleha
Si tulang rusuk yang selalu melindungi hatiku.
Terima kasih, telah memilih aku menjadi tulang punggung sandaran jiwamu

Wahai wanita memesona, Juleha
Manisku yang tak bosan menyejukkan mataku dengan tingkah dan rayumu
Terima kasih, karena bersedia menjadi makmumku

Wahai Bidadari surgaku, Juleha
Kekasih sejatiku yang tek pernah bosan menentramkan hatiku
Terima kasih, telah menjadikanku pangeran yang selalu kau jamu tiap waktu

Juleha,
kita pasangan yang memang belum sempurna
Tapi kau tak pernah lebih dan tak pernah pula kurang, kau cukup bagiku
Sejak semula kau memang bukan pilihan
Karena memilih berarti membandingkan
Sungguh sejak akad terucap, kau tak terbandingkan.

Selamat Berbuka Puisi, Eh keceplosan, selamat berbuka Puasa bagi yang berpuasa.

#CeritaSetelahMenikahGusLeha

3 Bulan Menikah (Saling Menjadi Paripurna Mewujudkan Mimpi)

agusman17an.com

Pemuda Yang Bermimpi Hidupnya Berjaya, Bangsanya Berdaya dan Dirindukan Syurga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *