Beberapa hari belakangan ini, Indonesia kewalahan dengan merebaknya wabah Covid-19. Tidak hanya Indonesia, bahkan seluruh dunia pun sama.

Sejak pasien terkonfirmasi positif pertama di Indoensia pada bulan Maret lalu, dan masih terus bertambah pasien yang terkonfirmasi positif hingga hari ini, yang bertepatan pula di bulan Ramadan, membuat kita tak bisa menikmati moment-moment sebagaimana Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya. Artinya, kali ini Ramadan kita berbeda. Ramadan yang biasanya menjadi moment spesial dan dinanti-nanti menjadi ada yang kurang tahun ini karena Pandemi.

Bila dulu kita bisa tarawih berjamaah di masjid, tahun ini kita dianjurkan untuk tarawih di rumah saja demi diri sendiri dan saudara-saudara kita yang lain. Bila dulu kita bisa ngabuburit, tahun ini terpaksa kebiasaan itu wajib kita tiadakan. Bila tahun-tahun sebelumnya di bula Ramadan kita bebas berburu takjil dan buka bersama teman-teman, kali ini terpaksa kebiasaan tahunan itu di stop pada tahun ini.

Hal itu tentu membuat kita sedih, kecewa dan mungkin rasa ingin marah dengan keadaan ini. Tapi, kita harus sabar dan tabah, kita harus menerima kondisi yang tak menyenangkan ini. Kita harus mematuhi himbauan pemerintah, mendengar pesan-pesan ulama, juga mengikuti anjuran tenaga kesehatan demi kebaikan kita bersama dan agar mata rantai penyebaran virus ini segera terputus. Yang pada akhirnya keinginan kita semuanya sama; bisa kembali beraktivitas sebagai mana biasa, seperti sebelum wabah Covid-19 ini ada.

Terus bertambahnya pasien yang terkonfirmasi positif hari ke hari dan bertambah pula orang yang meninggal karena virus Covid-19 membuat kita kawatir dan bertanya-tanya kapan pandemi ini akan berakhir.

Tercatat, per tanggal 18 Mei 2020, ada 18.010 yang terkonfirmasi positif, 1.191 orang yang meninggal karena Virus Covid-19 dan ada 4.324 yang telah dinyatakan sembuh dari Virus Covid-19. Untuk melihat infografinya, bisa kita lihat pada gambar di bawah ini.

Data Covid-19 Indonesia Per tanggal 17 Mei 2020
Data Covid-19 Indonesia Per tanggal 17 Mei 2020

Melihat gambar di atas. Dan setiap harinya tarus bertambah pasien yang terkonformasi positif dan selalu ada yang meninggal, hal itu sungguh mengkhawatirkan dan membuat kita harus tetap waspada.

Namun, di tengah kekawatiran kita tentang terus merebaknya wabah Covid-19 ini, ada yang tak bisa dibunuh wabah ini. Apa itu? Kebaikan

Ya, kebaikan. Coba kita lihat di sekeliling kita, pasti akan kita temukan orang-orang yang terus menebar kebaikan meskipun Covid-19 terus menghantui. Artinya, sesungguhnya kebaikan tak pernah mati meski sedang dalam keadaan pandemi.

Di tempatku tinggal Sungai Guntung, meski aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, tapi aku tahu betul betapa banyak orang di luar sana yang tak berhenti menebar kebaikan untuk orang lain.

Kusaksikan sendiri betapa banyaknya orang-orang yang baik dan peduli kepada sesama. Ada pemerintah yang peduli dengan membuat kebijakan-kebijakan yang baik, ada tenaga medis yang cepat tanggap sebagai garda terdepan, ada para relawan yang rela turun tangan ke lapangan, ada pengusaha yang berdonasi secara langsung dan sembunyi-sembunyi, ada pula mahasiswa yang menyediakan tempat cuci tangan agar tangan selalu bersih. Tidak hanya itu, ada pula yang membagi-bagikan masker, ada yang menyumbangkan makanan. Tentu masih banyak lagi kebaikan yang tersembunyi dan belum aku ketahui.

Dokumentasi Orang yang Menebar Kebaikan di Sungai Guntung
Dokumentasi Orang yang Menebar Kebaikan di Sungai Guntung

Aku pun percaya, di tempat kalian tinggal pun demikian, banyak orang yang terus menebar kebaikan untuk sesama.

Di tengah pandemi Covid-19 dengan segala kisah pilu dan keresahannya, kabar baik selalu saja ada dan datang dari arah mana saja. Hal itu benar dan telah kusaksikan di layar kaca televisi dan di media sosial, betapa banyak orang yang mengambil peran menebar kebaikan.

Orang-orang yang menebar kebaikan itu seolah berkata, “Kami hadir untuk tak menyerah kepada keadaan. Kami hadir untuk saudara-saudara yang membutuhkan.”

Lihatlah!!! Semua mengambil peran, ada yang menggalang bantuan untuk pengadaan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan, ada yang berkreasi membuat kotak disinfektan, ada yang membuat cairan pembersih tangan, ada yang menjahit masker, ada yang membagi makanan dan bahan pokok bagi orang-orang miskin, ada pula yang menebarkan narasi positif.

Nah, tentang menebarkan narasi positif, beberapa waktu lalu saya dan teman-teman ikut ambil bagian. Untuk melihat narasi positif yang saya dan teman-teman buat, kalian bisa memutar video yang saya bagikan di awal tulisan ini.

Kawan, yuk bantu mereka yang sudah menebar kebaikan. Bila tak bisa turun tangan, cukup di rumah saja, bila tak bisa di rumah saja karena harus bekerja di luar rumah demi melanjutkan kehidupan, jaga kerbesihan, rajin cuci tangan, pakai masker dan usahakan kurangi kontak dengan orang-orang, jaga jarak.

#IniCeritakuDariRumah, mana cerita kalian?

Yuk Tebar Kebaikan Dengan Berbagi Cerita Kebaikan
Yuk Tebar Kebaikan Dengan Berbagi Cerita Kebaikan

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Cerita Dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan”

Kebaikan Tak Pernah Mati Meski Sedang Pandemi

agusman17an.com

Pemuda Yang Bermimpi Hidupnya Berjaya, Bangsanya Berdaya dan Dirindukan Syurga

2 gagasan untuk “Kebaikan Tak Pernah Mati Meski Sedang Pandemi

  • Mei 20, 2020 pukul 8:57 am
    Permalink

    sebenarnya mudah sekali ya berbuat kebaikan, apalagi harus stay di rumah saja. cuma ini kadang masyarakat kita belum begitu patuh akan peraturan pemerintah yang ada. heuuu semoga banyak orang baik seperti mas agus ya, yg bisa berbagi ke sesama.

    Balas
    • Mei 20, 2020 pukul 10:29 am
      Permalink

      Iya mudah mbak. Asal ada niat pasti bisa, lakukan kebaikan semampu kita saja. Aamiin semoga kita termasuk golongan yang berbuat baik ke sesama.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *