Rania dan Kucing Kesayangannya

Kamis pagi itu berbeda. Rania yang biasanya ceria tak seperti hari Kamis sebelumnya. Ia sedang sedih karena kucing kesayangannya pergi entah kemana. Cuaca pagi itu pun seakan menggambarkan hati Rania yang sedang pilu, matahari seakan enggan menampakkan kegagahannya. Langit sedang mendung dan ingin menumpahkan airnya.

Kucing kesayangan Rania warnanya hitam dan putih, namanya Tam Ti. Kucing yang lucu dan aktif itu sudah lima hari tak nampak oleh Rania. Kepergian kucing kesayangan Rania yang tak tahu rimbanya membuat Rania setiap pagi mengamati sekeliling rumahnya. Tiap sore selalu menunggu di depan rumahnya. Berharap kucing itu datang dan mengeong di depannya.

“Rania,” panggil Meltha, ibunya, “lekas mandi, sudah jam tujuh.”

Rania yang dipanggil ibunya bergegas ke arah suara. Tepat di depan ibunya, Rania langsung bertanya dengan wajah yang lesu. “Sudah lima hari Tam Ti tak nampak, Ma. Mama tahu ke mana Tam Ti pergi?”

Bu Meltha menggelengkan kepala, sebuah tanda bahwa ia tidak tahu ke mana Tam Ti pergi. Melihat ibunya menggelengkan kepala, Rania kembali sedih. Bu Meltha yang melihat wajah gadis kecilnya murung pun ikut sedih dan coba menenangkan. Bu Meltha tahu, kehilangan adalah hal yang menyedihkan karena ia pun pernah mengalaminya.

“Sembari menunggu Tam Ti pulang, bagaimana kalau kita cari kucing lain saja, kita pelihara. Kita jaga sebagaimana Tam Ti”

Usul yang disampaikan Bu Meltha tak ditolak Rania, ia hanya menganggukkan kepala menyetujui. Namun tetap saja ada pikiran di kepala Rania yang tak bisa ia simpan sendiri, “Tapi …..,” kata Rania pelan, “kasihan Tam Ti, Ma. Dia pasti kedinginan di luar sana dan pasti kelaparan. Biasanya kita yang memberinya makan tiap hari.” lanjutnya, tanpa disadarinya bulir bening turun membasahi pipi mungilnya.

Melihat anak gadisnya mulai menangis, Bu Meltha langsung memuluk anaknya dan coba menenangkan, “Tenang saja, Tam Ti pasti mendapat makanan di luar sana. Tiap makhluk di muka bumi telah Tuhan tentukan rezekinya, begitu juga Tam Ti, kalau kemarin Tuhan berikan lewat perantara kita, nanti akan lewat perantara yang lain. Doakan saja Tam Ti baik-baik saja”

“Ia Ma. Semoga Tam Ti baik-baik saja. Rania mandi dulu ya, Ma. Mau siap-siap berangkat ke sekolah.”

Gadis kecil itu selangkah demi selangkah menjauhi Bu Meltha. Tahu gadis kecilnya dilanda kesedihan karena kehilangan kucing kesayangannya, Bu Meltha terpikir untuk melakukan sesuatu dan berharap apa yang ia lakukan membuahkan hasil.

Sore harinya, Rania masih betah menunggu di depan pintu rumahnya, berharap kucing kesayangannya kembali. Tapi tetap saja yang ditunggu-tunggu Rania tak kunjung datang.

Hari ke sepuluh kehilangan Tam Ti masih membuat Rania sedih, tapi kesedihan Rania tidak lagi seperti yang lalu, kesedihannya terobati karena kehadiran kucing baru belang tiga, ia beri nama Langga.

Langga adalah kucing yang tak kalah lucu dibandingkan Tam Ti. Bu Sonya yang memberikan kucing belang tiga ke Rania. Bu Sonya adalah tetangganya Bu Meltha. Bu Sonya memberikan kucing belang tiganya karena tak tega melihat Rania larut dalam kesedihan. Bu Sonya berharap semoga dengan hadirnya Langga sedikit mengurangi kesedihan Rania.

Tiap hari Langga selalu diberi makan oleh Rania, ia memelihara Langga sebagaimana ia memelihara Tam Ti. Pesan ibunya selalu Rania ingat, “Pelihara Langga sebagaimana Rania memelihara Tam Ti. Percayalah, bila Rania berbuat baik dengan Langga, di mana pun Tam Ti berada juga akan diperlakukan baik pula oleh orang lain.

Kehadiran Langga tidak lantas membuat Rania berhenti mencari Tam Ti. Meskipun ada Langga yang menghibur hati Rania, ia tetap saja berharap suatu hari Tam Ti kembali. Setiap hari Rania masih terus mencari dan menunggu Tam Ti. Tiap pagi ia masih mengecek sekeliling rumahnya. Tiap sore ia selalu menunggu di depan Rumahnya. Namun setelah adanya Langga, Rania menunggu Tam Ti tak lagi sendiri karena sudah ada yang menemani.

Sore itu kelihatan cerah. Awan gemawan berarak-arakan. Hanya beberapa menit saja menjelang senja. Matahari

Sore itu adalah hari ke 17 kehilangan Tam Ti, sudah lebih setengah bulan tapi Rania tak bosan menunggu, ia percaya kucing kesayangannya akan datang lagi ke rumahnya.

Senja pun hadir, lantunan Tahrim sudah mulai terdengar. Rania yang sedang menggendong Langga masuk ke rumahnya sambil berkata dalam hati, “Tam Ti, kamu ke mana. Pulanglah, Rania rindu” pada saat itu ia langsung mencium Langga seolah melepas rindu pada Tam Ti lewat perantataan Langga.

Telpon Bu Meltha berbunyi, ia bergegas mengangkat telpon dari seseorang yang baru dua hari yang lalu ia kenal. Di seberang telpon Bu Meltha terdengan suara perempuan yang cukup merdu, “Bu Meltha, saya sudah di depan rumah.”

“Oh, iya saya ke luar. Tunggu sebentar ya”

Sejurus kemudian, Bu Meltha telah berada di depan rumahnya dan berbincang dengan seorang wanita yang umurnya tak jauh berbeda dengannya. Wanita itu membawa kucing berwarna Hitam dan Putih. Ia tersenyum ke Bu Meltha dan menyerahkan kucing itu kepada Bu Meltha. “Benar ini kucing ibu?”

Buk Meltha menyambut kucing itu dan langsung menciumnya. “Iya, ini kucing kesayangan putri saya. Terima kasih ya, bersedia mengantarkan kucing kesayangan saya.”

“Sama-sama Bu Meltha, senang bisa membantu. Saya pulang dulu.”

“Sekali lagi Terima kasih.”

Rania dan Kucing Kesayangannya

agusman17an.com

Pemuda Yang Bermimpi Hidupnya Berjaya, Bangsanya Berdaya dan Dirindukan Syurga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *