SEMANGAT BARU, AMANAH BARU

Tahun ini, meski agak khawatir dengan hari-hari yang dihantui oleh pandemi, justru di hari-hari itu pula Allah titipkan rezeki yang membahagiakan hati. Satu per satu rezeki tak terduga berdatangan. Membuat saya merasa kerap kekurangan rasa syukur

Sejak terkonfirmasi perdana pasien Covid-19 di Indonesia, saya menduga, “Ini berat pasti ada yang ke dua dan seterusnya.” Dan ternyata benar, sampai hari ini pasien yang terkonfirmasi positif terus bertambah setiap hari. Harapan kita tentu sama, semoga pandemi ini segera berakhir

Dampak dari pandemi ini tak main-main, banyak korban jiwa yang berjatuhan (Semoga mereka di tempatkan di tempat terbaik) ekonomi lumpuh, pendidikan terpaksa diliburkan, banyak kebiasaan-kebiasaan yang harus dirubah, dan banyak yang semula direncanakan terpaksa harus di atur ulang

Hingga, saya pun sedikit merubah kebiasaan dan kadang juga sampai pada titik kebosanan. Dulu saya pernah bilang, “Saya tak ingin punya waktu terbuang sia-sia, semua harus produktif.” Kini saya lebih memilih: Seandainya ada beberapa hari saja, atau beberapa minggu untuk jeda, mungkin saya bisa lebih tersegarkan. Saya butuh waktu senggang, waktu tenang atau bersenang-senang

Hari ini, pagi di Sungai Guntung tak diguyur hujan seperti beberapa hari belakangan. Saya bangun tidur dengan perasaan yang malas ditambah dengan masih ada rasa kantuk karena tidur tak pulas. Kamar terasa lebih dingin dari biasanya. Saya harus segera bangun karena ada yang harus segera dibereskan. Saya pun keluar kamar dan membereskan apa yang harus saya selesaikan

Setelah selesai membereskan pekerjaan di luar kamar, saya kembali ke kamar dan saya dikejutkan dengan benda yang dilihatkan sang istri. Saya terkesiap. Tanpa sadar, senyum saya melebar. Hati saya mendadak berbunga-bunga. Ada pesta tiba-tiba dalam diri saya, endorfin dan seretonin memantik saraf limbik dan menggerakkan amigdala, menyalakan musik ceria dalam kepala. “Sayang, kamu…….”

Istri saya tersenyum. Senyumnya indah sekali walaupun belum mandi ☺

“Alhamdulillah…” gumam saya dalam hati, “Amanah baru, semangat baru”

Lalu kami terlibat dalam percakapan sepasang suami-istri yang bahagia, cemas, sekaligus ‘excited’ dengan apa yang akan terjadi. Dan tentunya harus lebih banyak bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Tinggi

Saya merasa mendapatkan suntikan semangat baru. Warna hidup saya terasa kontras lagi. Jantung saya berdegub kencang. Darah saya berdesir. Adrenalin saya meluap-luap. Saya ingin berbuat lebih banyak lagi. Melakukan hal-hal istimewa tanpa harus mengeluh dan bosan lagi. Saya harus membayar rasa syukur saya atas kebahagiaan yang saya terima

Doakan kami, doakan urusan kami dilancarkan, usaha kami dimudahkan dan selalu dalam lindungan Tuhan dan keberkahan

www.agusman17an.com

Semangat Baru, Amanah Baru

agusman17an.com

Pemuda Yang Bermimpi Hidupnya Berjaya, Bangsanya Berdaya dan Dirindukan Syurga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *